Askep Diabetes Melitus

By | September 17, 2013

ASKEP Diabetes Melitus. Diabetes Melitus atau DM merupakan suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan. Penyakit diabetes melitus ini diagnosa awalnya dengan adanya gejala khas berupa banyak makan (polifagia), banyak kencing (poluria), polidipsia, lemas, dan berat badan turun. Gejala lainnya dari diabetes melitus yang seringkali dikeluhkan adalah kesemutan, gatal, mata kabur, dan impotensi pada pria, serta pruritus vulva pada wanita. Berikut ini merupakan asuhan keperawatan atau askep diabetes mellitus sebagai penunjang pemeriksaan laboratorium.

Ada beberapa pemeriksaan penunjang khususnya pemeriksaan laboratorium yaitu Glukosa darah sewaktu, Kadar glukosa darah puasa dan Tes toleransi glukosa. Dalam kriteria yang diterapkan oleh WHO untuk penyakit diabetes melitus ini dalam hasil laboratorium hasil pemeriksaannya menunjukkan : Glukosa plasma sewaktu > 200 mg/dl (11,1 mmol/L) kemudian Glukosa plasma puasa > 140 mg/dl (7,8 mmol/L) dan Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl.

Tujuan utama memberikan terapi pada askep diabetes melitus ini yaitu mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah yang dimaksudkan untuk bisa mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal. Beberapa komponen penting dalam penatalaksanaan askep diabetes melitus ini adalah dengan Diet DM, Latihan, Pemantauan glukosa darah kemudian melakukan Terapi (jika diperlukan) dan Pendidikan kesehatan. Pengkajian yang dilakukan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan (Askep) diabetes melitus diantaranya yaitu :

  • Riwayat Kesehatan Keluarga : Yang dikaji adakah keluarga yang menderita penyakit diabetes mellitus seperti klien yang diderita?
  • Pengkajian selanjutnya Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya. Berapa lama klien menderita Diabetes Melitus, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakit diabetes mellitus tersebut.
  • Pengkajian lanjutannya adalah Aktivitas / Istirahat. Gejala seperti lemah, letih, mengalami kesulitan bergerak atau berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
  • Selanjutnya Sirkulasi. Adakah riwayat hipertensi, AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah.
  • Berikutnya pengkajian Integritas Ego. Diantaranya Stress, ansietas.
  • Pengkajian selanjutnya Eliminasi. Perubahan dalam pola berkemih (poliuria, nokturia, anuria), diare.
  • Pengjian selanjutnya yaitu Makanan / Cairan diantarany Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
  • Pengkajian lainnya Neurosensori. Meliputi Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia, gangguan penglihatan.
  • Nyeri / Kenyamanan : Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat).
  • Pengkajian diabetes mellitus lainnya adalah Pernapasan, Batuk dengan / tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi / tidak).
  • Pengkajian terakhir adalah Keamanan. Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

Selanjutnya melakukan diagnosa Keperawatan serta masalah keperawatan yang ditegakkan pada askep diabetes melitus ini antara lain : Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan. Selanjutnya Kekurangan volume cairan. Berikutnya Gangguan integritas kulit dan Resiko terjadi injuri.

Intervensi Asuhan Keperawatan Diabetes melitus

Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.

Tujuan dari intervensi ini adalah Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi. Adapun Kriteria Hasilnya adalah Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat kemudian Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya. Intervensi : Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi. Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien. Kemudian Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi. Selanjutnya berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral. Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi. Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala. Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah. Kolaborasi Medis dengan pemberian pengobatan insulin. Kolaborasi dengan ahli diet.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.

Tujuannya adalah Kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi. Adapun Kriteria Hasil : Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal. Intervensi :  Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik. Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul.  Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas. Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa. Pantau masukan dan pengeluaran. Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung. Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung. Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur. Kolaborasi Medis : Berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K).

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
Tujuannya adalah gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan. Adapun kriteria Hasil adalah Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi. Intervensi : Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut. Kaji tanda vital. Kaji adanya nyeri. Lakukan perawatan luka. Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

Resiko terjadi injuri berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan.
Tujuannya adalah Pasien tidak mengalami injuri. Adapun kriteria hasilnya adalah Pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injuri. Intervensi : Hindarkan lantai yang licin. Gunakan bed yang rendah. Orientasikan pasien dengan ruangan. Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi. (Source : askep-net.blogspot.com)

Nah, itulah sekilas artikel mengenai asuhan keperawatan diabetes melitus atau biasa disebut askep diabetes melitus mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi pembaca. Baca juga artikel menarik lainnya tentang tips solusi penyakit diabetes melitus / DM atau kencing manis.

Kata kunci pencarian :

Askep DMaskep diabetes melitusasuhan keperawatan diabetes melitusaskep diabetes militusaskep Diabetescontoh askepcontoh askep DMpengkajian DMaskep diabetes mellitusasuhan keperawatan dmpengkajian diabetes melitusdiagnosa dmaskep dm lengkapdiagnosa keperawatan DMdiagnosa keperawatan diabetes melitusasuhan keperawatan askep diabetes mellitus dmcontoh askep diabetes melitusasuhan keperawatan diabetes milituspengkajian pasien DMintervensi DM, , 
Share